Main Black Myth: Wukong Tanpa Controller? Teknologi BCI Kendalikan Game dengan Gelombang Otak
-
by hpyxd
- 3
Dunia gaming kembali menunjukkan bagaimana teknologi masa depan perlahan mulai menjadi kenyataan. Dalam ajang World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2026 di Shanghai, pengunjung diperlihatkan demonstrasi Brain-Computer Interface (BCI) non-invasif yang memungkinkan seseorang memainkan game Black Myth: Wukong tanpa menyentuh controller, keyboard, maupun mouse.
Alih-alih menggunakan perangkat input konvensional, sistem ini memanfaatkan gelombang otak yang ditangkap melalui headset EEG (Electroencephalography). Sinyal tersebut kemudian diterjemahkan oleh kecerdasan buatan menjadi berbagai perintah dalam permainan, mulai dari bergerak hingga menyerang musuh.
Meski masih berada pada tahap awal pengembangan, demonstrasi ini memperlihatkan bagaimana teknologi antarmuka otak dan komputer berpotensi mengubah cara manusia berinteraksi dengan perangkat digital di masa depan.
Bermain Game Menggunakan Gelombang Otak
Teknologi yang dipamerkan di WAIC 2026 menggunakan pendekatan Brain-Computer Interface (BCI) non-invasif, artinya pengguna tidak memerlukan operasi ataupun implan di otak. Cukup mengenakan headset EEG di kepala, sistem akan membaca aktivitas listrik yang dihasilkan otak saat pengguna berkonsentrasi terhadap objek tertentu yang muncul di layar.
Menurut pengembangnya, proses kalibrasi hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit sebelum sistem siap digunakan. Setelah selesai dikalibrasi, AI mulai mempelajari pola sinyal otak pengguna sehingga setiap fokus visual dapat diterjemahkan menjadi aksi tertentu di dalam permainan.
Mengandalkan Teknologi SSVEP
Berbeda dengan sejumlah sistem BCI lain yang mengharuskan pengguna membayangkan objek atau gerakan tertentu, teknologi yang dipamerkan di Shanghai menggunakan metode Steady-State Visual Evoked Potentials (SSVEP).

Cara kerjanya cukup unik. Di atas tampilan permainan terdapat beberapa target visual yang berkedip pada frekuensi berbeda. Saat pemain memusatkan perhatian pada salah satu target tersebut, area visual di otak menghasilkan pola gelombang listrik yang sesuai dengan frekuensi kedipan tersebut.
Headset EEG kemudian menangkap sinyal itu, sementara algoritma AI menerjemahkannya menjadi perintah seperti:
Bergerak.
Menyerang.
Menghindar.
Melakukan aksi tertentu di dalam game.
Dengan kata lain, pengguna cukup mengarahkan fokus pandangan tanpa perlu menekan tombol fisik.
Cara Kerja Brain-Computer Interface
Secara sederhana, proses pengoperasian sistem berlangsung melalui beberapa tahapan.
1. Target Visual Berkedip
Layar menampilkan sejumlah ikon atau target yang berkedip dengan frekuensi berbeda.
2. Otak Memberikan Respons
Ketika pengguna fokus pada salah satu target, korteks visual menghasilkan pola sinyal EEG tertentu.
3. Headset Membaca Gelombang Otak
Sensor EEG menangkap aktivitas listrik tersebut secara real-time.
4. AI Mengubahnya Menjadi Perintah
Model kecerdasan buatan mengidentifikasi pola sinyal dan mengubahnya menjadi aksi di dalam permainan. Seluruh proses berlangsung dalam hitungan milidetik sehingga karakter dapat bergerak tanpa menggunakan perangkat input konvensional.
Masih Punya Keterbatasan
Walaupun terdengar seperti teknologi dari film fiksi ilmiah, Brain-Computer Interface saat ini masih memiliki sejumlah keterbatasan. Salah satunya adalah latensi atau jeda waktu antara sinyal otak dan respons permainan. Kecepatan sistem masih belum mampu menandingi kontrol menggunakan gamepad, keyboard, maupun mouse yang jauh lebih presisi.
Selain itu, metode SSVEP mengandalkan objek yang berkedip di layar. Pendekatan ini berpotensi kurang nyaman bagi sebagian pengguna dan mungkin tidak ideal bagi individu yang memiliki sensitivitas terhadap cahaya atau riwayat epilepsi fotosensitif. Meski demikian, teknologi ini terus berkembang dan tingkat akurasinya diperkirakan akan meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
Membuka Peluang bagi Penyandang Disabilitas
Di luar dunia hiburan, Brain-Computer Interface memiliki manfaat yang jauh lebih besar. Teknologi ini berpotensi menjadi solusi baru bagi penyandang disabilitas atau individu dengan keterbatasan mobilitas yang kesulitan menggunakan perangkat input tradisional.
Dengan mengandalkan aktivitas otak, mereka dapat berinteraksi dengan komputer, mengoperasikan perangkat digital, hingga memainkan game tanpa memerlukan gerakan tangan. Karena itulah pengembangan BCI kini tidak hanya difokuskan pada industri gaming, tetapi juga sektor kesehatan dan rehabilitasi.
Bukan Hanya Bermain Game
WAIC 2026 juga menampilkan berbagai penerapan lain dari teknologi Brain-Computer Interface.
Salah satu perusahaan, BrainCo, mendemonstrasikan sistem EEG yang memungkinkan pengguna mengendalikan lengan robot hingga robot humanoid hanya melalui sinyal otak.
Menurut pengembangnya, AI membaca aktivitas listrik dari headset EEG, mengenali niat pengguna, lalu mengirimkan perintah ke robot dalam waktu kurang dari 200 milidetik.
Selain robotika, teknologi serupa juga mulai dikembangkan untuk berbagai kebutuhan medis, seperti:
- Pemantauan kualitas tidur.
- Deteksi dini kejang epilepsi.
- Monitoring pasien selama proses anestesi.
- Rehabilitasi neurologis.
Masa Depan Interaksi Manusia dan Komputer
Kemunculan Brain-Computer Interface di WAIC 2026 menunjukkan bahwa interaksi antara manusia dan perangkat digital sedang memasuki babak baru. Walaupun performanya masih belum dapat menggantikan controller konvensional untuk permainan kompetitif, teknologi ini telah membuktikan bahwa gelombang otak dapat digunakan sebagai media kontrol yang nyata.
Seiring berkembangnya kecerdasan buatan, peningkatan akurasi sensor EEG, dan penyempurnaan algoritma pemrosesan sinyal, Brain-Computer Interface diperkirakan akan memiliki peran yang semakin besar, tidak hanya dalam dunia gaming, tetapi juga kesehatan, robotika, hingga produktivitas sehari-hari. Apa yang dahulu hanya hadir dalam film fiksi ilmiah kini mulai menjadi bagian dari inovasi teknologi modern yang perlahan mendekati kehidupan nyata.
Dunia gaming kembali menunjukkan bagaimana teknologi masa depan perlahan mulai menjadi kenyataan. Dalam ajang World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2026 di Shanghai, pengunjung diperlihatkan demonstrasi Brain-Computer Interface (BCI) non-invasif yang memungkinkan seseorang memainkan game Black Myth: Wukong tanpa menyentuh controller, keyboard, maupun mouse. Alih-alih menggunakan perangkat input konvensional, sistem ini memanfaatkan gelombang otak yang ditangkap…
Dunia gaming kembali menunjukkan bagaimana teknologi masa depan perlahan mulai menjadi kenyataan. Dalam ajang World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2026 di Shanghai, pengunjung diperlihatkan demonstrasi Brain-Computer Interface (BCI) non-invasif yang memungkinkan seseorang memainkan game Black Myth: Wukong tanpa menyentuh controller, keyboard, maupun mouse. Alih-alih menggunakan perangkat input konvensional, sistem ini memanfaatkan gelombang otak yang ditangkap…
